Sabtu, 29 Oktober 2011

FATHIMAH AZ-ZAHRA

RIWAYAT HIDUP FATHIMAH AZ-ZAHRA


Fathimah Az-Zahra adalah putri keempat pasangan Rasulullah dan Khadijah. Terdapat perbedaan pendapat tentang waktu kelahiran Fatimah. Ada yang berpendapat bahwa ia lahir di Mekkah pada tahun 5 H.. Akan tetapi, sebagian yang lain menyatakan bahwa ia lahir pada tahun 3 H, dan sebagian lagi menetapkannya pada tahun 2 H. Dan dari kalangan Ahlussunnah ada yang menyatakan bahwa kelahirannya jatuh pada tahun 1 H.
Jelas bahwa usaha memperjelas hari kelahiran tokoh-tokoh besar sejarah meskipun dari sudut pandang historis dan riset ilmiah memiliki nilai yang besar, akan tetapi, dari sisi mengenal peran mereka dalam sejarah, hal itu tidak begitu urgen. Yang penting adalah mengetahui peran mereka dalam membentuk masa depan manusia dan sejarah.
Fathimah dididik di rumah ayahnya, yaitu Rasulullah, sebuah rumah kenabian dan tempat turunnya wahyu. Rumah tempat kelahiran kelompok pertama yang beriman kepada ke-Esaan Allah dan dengan tegar memegang iman mereka. Rumah itu adalah satu-satunya rumah dari sekian banyak rumah di jazirah Arab yang dari dalamnya berkumandang suara allahu akbar. Fathimah adalah satu-satunya anak wanita yang mengalami kehangatan semacam itu. Ia berada di rumah itu sendirian dan masa kecilnya ia lalui dengan segala kesendirian. Dua saudarinya, Ruqaiyah dan Ummu Kultsum lebih besar beberapa tahun dari dirinya. Mungkin salah satu rahasia kesendiriannya adalah supaya ia dapat memfokuskan diri terhadap penggemblengan raga dan jiwa.
Setelah menikah dengan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, ia dikenal sebagai seorang figur wanita di sepanjang sejarah. Dalam kehidupan berumah tangga ia adalah seorang wanita teladan, dan dalam beribadah kepada Allah ia juga dikenal sebagai wanita teladan. Setelah selasai dari semua kewajiban sebagai ibu rumah tangga, ia dengan penuh khusyu’ dan rendah hati beribadah kepada Allah serta berdoa untuk kepentingan orang lain.
Imam Shaddiq meriwayatkan dari kakek-kakeknya bahwa Imam Hasan bin Ali berkata, “Di setiap malam Jumat, ibuku beribadah hingga fajar menyingsing. Ketika ia mengangkat tangannya untuk berdoa, ia selalu berdoa untuk kepentingan orang, dan ia tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Suatu hari aku bertanya kepadanya, ‘Ibu, mengapa Anda tidak pernah berdoa untuk diri Anda sendiri sebagaimana Anda mendoakan orang lain?’ ‘Tetangga harus didahulukan, wahai putraku’. jawabnya singkat”.
Sebelum Rasulullah meninggal dunia, segala kesulitan hidup yang dialaminya sirna dengan melihat wajah berseri sang ayah. Bertemu dengan sang ayah dapat membasmi semua kepenatan dan menganugerahkan ketenteraman dan kekuatan baru. Akan tetapi, meninggalnya sang ayah, terzaliminya sang suami, hilangnya kebenaran dan penyelewengan-penyelewengan yang terjadi setelah meninggalnya Rasulullah dalam waktu yang sangat singkat, sangat menyakiti jiwa dan kemudian raga Fathimah. Berdasarkan pembuktian sejarah, sebelum sang ayah meninggal dunia, ia tidak pernah memiliki penyakit raga.
Kita telah mengetahui cerita mereka yang datang ke rumah Fathimah dan ingin membakar rumah dan seluruh isinya. Peristiwa ini dengan sendirinya sudah cukup sebagai peristiwa yang sangat menyakitkannya. Apalagi jika ditambah dengan peristiwa-peristiwa lain.
Putri Rasulullah terbaring di atas ranjang merintih kesakitan. Para wanita Muhajirin dan Anshar mengelilinginya. Ia masih sempat melontarkan ceramah di hadapan mereka. Dan dengan menukil sebagian kecil dari ceramah tersebut, kita akan memahami betapa ia mengeluh terhadap keadaan masyarakat kala itu yang memancing di air keruh untuk merampas wilayah dari pemiliknya yang sah.
Pada akhirnya putri Rasulullah itu mengucapkan selamat tinggal kepada dunia ini dan berjumpa dengan Allah. Imam Ali menguburkan jasadnya pada malam hari sehingga tidak ada kesempatan bagi Abu Bakar untuk menghadiri penguburannya. Ia meninggal dunia sebagai syahid yang terzalimi. Ia meninggal pada tahun 11 H.

Sumber: http://cintarasulullah.wordpress.com/biografi-singkat-fathimah-az-zahra-as/

KEISTIMEWAAN FATHIMAH AZ-ZAHRA

PERANAN FATHIMAH DALAM PEPERANGAN DI AWAL MUNCULNYA ISLAM

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar